Lelaki Tua di Kedai Kopi part2


“Maaf, Tuan. Sungguh aku tidak bermaksud mengusik kehidupanmu. Aku hanya aneh saja. Aku sering melihatmu disini tapi dengan....”
“Sudahlah, biarkan itu jadi rahasiaku sendiri.” Potong lelaki tua itu.
“Pelayan, aku memesan satu teh susu hangat lagi ya, kali ini jangan terlalu manis.” Ucap lelaki tua itu lagi sambil berlalu kembali ke kursinya.
“Aduh, Sam. Aku jadi merasa tidak enak hati padanya. Apakah penasaranku ini terlalu mengganggunya?”
“Ah, entahlah. Aku mau mengantarkan teh ini ke mejanya dulu ya.”

“Terimakasih.” Ucap lelaki tua itu lirih ketika teh pesanannya telah diantar.
Ada sesuatu yang semakin mengganggunya setelah berbicara dengan Maya tadi. Bayangan kelamnya semakin pekat. Kenangan itu semakin mengikat.


“Sayang, aku tunggu di tempat biasa ya, ajak anak-anak. Kita bersantai bersama, sudah lama juga tak ke kedai.” seru seorang lelaki di telpon kepada istrinya. Di mejanya sudah tersedia empat cangkir kopi. Untuk dirinya, istrinya, dan kedua anaknya. Lelaki itu tak sabar menunggu keluarganya datang, sudah sangat rindu setelah satu minggu bertugas di luar kota. Karna biasanya, setiap hari tak pernah terlewatkan untuk menyempatkan berkumpul bersama dengan cerita-cerita yang tak pernah habis. Terbayangkah bagaimana bahagianya keluarga kecil itu?
Tak sampai satu jam, sebuah taksi terlihat dari jendela dekat kursi yang lelaki itu duduki. Ia pun tersenyum lebar. Pintu taksi itu membuka sedikit. Sang istri terlihat muncul dari taksi itu. Sepersekian detik seperti ada yang mengubah senyum lelaki itu menjadi wajah terperangah dan menghentikan detak jantungnya sejenak. Suara decitan roda mobil seperti mematikan indra pendengarannya sesaat. Taksi yang ditumpangi keluarganya tiba-tiba saja menjadi salah satu yang terpental dalam kecelakaan beruntun akibat sebuat mobil yang oleng. Titik-titik darah menghiasi kota malam itu. Seketika ramai mencekam di sekeliling kedai.


“Tuan, maaf. Apakah Tuan masih lama disini? Kedainya sudah mau tutup.”
“Oh, tidak. Aku akan segera pulang, tenang saja.”
Tanpa sadar lelaki tua itu telah lama melamun dalam bayangan kejadian berpuluh tahun yang lalu itu. Ya, kenangan hitamnya yang membuatnya seperti ini sekarang. Murung, diam, seperti tak ada warna. Sejak itu pula ia sangat benci pada kopi. Kopi yang tak sempat menyatukan kebahagiaaan keluarga kecilnya, dan kopi yang menjadi saksi bisu tragedi yang memaksa dirinya sendiri kini.

Comments