kamu, aksara sederhana kesayangan
Aku terlalu lemah untuk menyanjung, walau hati ini selalu tersanjung.
Akan ku sebut aksara, kamu yang sehari-hari menemaniku bicara. Aksara, bermakna.
Aku bukan lagi pagi untukmu. Aku tak lebih dari matahari yang kesiangan.
Karna sebelumnya kamu pernah terlalu mencintai langit fajar.
Tak perlu meminta izin untuk menjadi siang sampai larut malammu, bukan? Tuhan akan menuntunku mendampingimu.
Sebab aku tak pandai melihat berkas-berkas jejak dan waktu yang takkan kembali. Maka biarlah aku terus mendengar derap langkah sepatumu.
Kelak, dibawah angkasa, dibalik dinding-dinding perkasa, aku dan kamu akan bersketsa, membuat dewa-dewa dilubuk mimpi, melukis senandung tawa saat senja tiba, dan menanam bunga yang tak pernah kusuka.
Kita akan berpacu melawan dentang jam tua disudut ruang dan tetap saling menatap, berbincang.
Aku bukan pencemburu. aku tak akan mencemburui debur ombak yang kau cumbu. Aku hanya kesal jika kamu tak menikmatinya bersamaku.
Bersamaku... Aku, yang selalu ingin merengkuh setiap detik denganmu, dari kacau hingga gurau, dari malang hingga riang, dari kegelapan hingga masa depan.
Sungguh kamu lebih dari sekedar dongeng-dongeng yang selalu berakhir dengan happily ever after, ya cerita kahayalan yang sering ku baca. Khayalan...
Kamu lebih dari sekedar khayalan, atau mimpi yang ketinggian.
Kamu adalah aksara sederhana kesayangan.


Comments
Post a Comment