Hari Ini yang Akan Kamu Banggakan Nanti
First of all, apakah kalian mempunyai mimpi atau cita-cita? Saya rasa semua orang punya mimpi, tapi tidak dengan cita-cita. Ketika kecil, mungkin kita sangat mudah berbicara akan jadi apa kita kelak. Tidak ada yang salah dengan itu. Setiap anak pasti mempunyai seseorang yang dilihatnya sebagai suatu keinginan di masa depan, terlepas dari mampu atau tidak, dan bagaimana perjalanan yang harus dihadapi.
Lalu, sejak kapan sebenarnya kita benar-benar mempunyai suatu tujuan yang ingin dicapai? Sejak kapan kita benar-benar ingin menjadi sesuatu dan membulatkan tekad untuk mencapainya? Saya yakin semua orang mempunyai timeline yang berbeda. Ada yang memang sudah yakin apa yang hendak dijalani sejak SMA sehingga dia bisa memilih pendidikan lanjutan yang seperti apa yang akan menuntunnya mencapai tujuannya (tipe pertama), namun ada pula yang bahkan setelah menyandang gelar sarjana pun dia belum tahu mau jadi apa (tipe kedua).
Saya adalah salah satu contoh orang yang menganut tipe kedua. In this case, saya akan berbagi sedikit tentang bagaimana perjalanan si tipe kedua. Ketika ditanya oleh guru, atau ketika saya harus mengisi "cita-cita" di form data siswa sekitar 10 tahun yang lalu, saya selalu menjawab saya ingin menjadi guru. Kenapa? Jujur saya suka belajar (dulu), saya juga suka dengan guru-guru. Entah apa yang dipikirkan saat itu, tapi sepertinya guru adalah profesi terdekat dalam hidup saya waktu itu (walaupun keluarga saya tidak mempunyai riwayat berprofesi sebagai guru). Tapi ketika beranjak pada usia belasan tahun, tepatnya pada saat SMP dan SMA sepertinya saya tidak lagi mempunyai cita-cita. Saya tidak mempunyai pikiran akan jadi apa kelak, akan melakukan apa nanti. Yang saya pikirkan waktu itu hanyalah "hari ini" bukan "besok". Saya menikmati masa-masa sekolah dengan kurang baik (dibidang akademis) dan sama sekali tidak memikirkan hidup saya hari ini. Saya menikmati apa yang ada waktu itu. Sampai pada saatnya saya harus menentukan pendidikan apa yang selanjutnya saya akan ambil. Yang saya ingat waktu itu, saya memang kekeuh ambil jurusan keguruan. Mungkin masih ada serpihan cita-cita masa kecil, dan yang saya pikirkan waktu itu hanyalah bagaimana caranya saya bisa masuk universitas negeri dengan nilai akademis saya yang pas-pasan dan dengan biaya yang mampu kami (keluarga saya) penuhi. Saya tidak berpikir panjang akan seperti apa kelak. Saya hanya berpikir saya harus mengambil pendidikan yang kelak profesinya sudah jelas, saya bisa langsung kerja dan membantu perekonomian keluarga yang pada saat itu memang sedang tidak baik. Singkatnya, saya "cari aman".
Selanjutnya, tentang bagaimana kehidupan ketika masa-masa kuliah, saya tidak akan berbicara panjang lebar, karena alhamdulillah saya mendapatkan banyak pengalaman dan teman-teman yang baik. Tapi yang saya akan bahas adalah kembali lagi kebahasan sebelumnya. Setiap orang mempunyai perjalanan dan waktu yang berbeda dalam menemukan jati dirinya. Dan saya mulai mengenal diri saya dengan baik ketika masa kuliah. Tentang seperti apa saya, seperti apa sebenarnya aktivitas yang cocok dengan karakter saya, dan lain sebagainya. Dan pada akhirnya mengalami krisis diri (saya tidak tahu bahasa psikologinya apa), yang pasti saya berada di kebimbanganan antara pendidikan yang saya ambil dan apa pekerjaan yang saya suka.
Baiklah, mari kita sedikit bedah apa sesungguhnya kaitan antara pendidikan dan pekerjaan. Sebelumnya saya akan tegaskan, ini versi saya, yang saya ambil dari pengalaman dan hasil pemikiran saya. Apabila kamu tidak setuju atau mempunyai pendapat lain sangat dipersilakan. Oh ya, yang saya maksud pendidikan disini adalah pendidikan lanjutan ya, bukan pendidikan formal 12 tahun.
Okay, saya yakin semua hal yang di dunia ini berlandaskan dari ilmu. Tuhan telah menyeting sedemikian rupa agar manusia dapat berpikir dengan baik dan bijak atas segala aspek kehidupan yang dijalaninya, dan apapun yang kita lakukan ya harus ada ilmunya. Ilmunya dari mana? ya dari Tuhan-lah. Tepat! I mean, kita bisa cari ilmu dari mana aja sih? Ilmu bisa datang dari mana aja. Beberapa orang bilang "saya tidak perlu kuliah, karena ilmu bisa datang dari mana aja. Saya bisa mencari ilmu dari mana aja, walaupun bukan di bangku kuliah." Benar, ilmu bukan hanya ada di bangku kuliah dan beberapa pekerjaan tidak butuh tau kamu kuliah dimana, pendidikanmu setinggi apa, yang jelas kamu harus punya skill dalam bidang tersebut. Tapi sebegitu tidak pentingkah kuliah ketika kamu merasa lebih siap menghadapi dunia daripada orang-orang yang kuliah?
Menurut saya, perkuliahan memang bukan satu-satunya tempat untuk kamu mencari ilmu, karena sebenarnya ilmu yang kamu dapat di bangku kuliah belum tentu sesuai dengan apa yang kamu kerjakan di kemudian hari. Tapi bukan berarti tidak penting. Saya percaya jika derajat seseorang salah satunya dilihat dari pendidikannya. Bukan soal apa gelarmu, dimana kuliahmu, seberapa pintar dirimu. Tapi menurut saya, perkuliahan adalah bagian dari ikhtiar untuk meng-upgrade ilmu. Saya lebih melihat kearah bagaimana usaha kita untuk mencoba menjadi makhluk yang lebih baik, ya salah satunya dengan pendidikan itu sendiri. Lagi-lagi bukan karena peduli dengan pandangan dunia tentang kamu.
"Lalu apa gunanya kuliah kalau kerjamu tidak sesuai dengan kuliahmu? Sayang dong kuliah kamu."
Pertanyaan dan pernyataan tersebut adalah makanan saya sehari-hari. Sayang? Engga. Apa yang harus disayangkan dari menuntut ilmu? Tidak akan ada yang sia-sia selama itu positif. Kalau sekarang konteksnya ilmu kuliahmu bukan modal untukmu dalam mencari uang, apakah itu patut untuk disayangkan? Saya yakin ilmu yang pernah saya dapat akan sangat berguna di aspek lain selain pekerjaan. Saya sangat tidak paham mengapa pekerjaan masih harus berorientasi pada pendidikan.
Pekerjaan bukan semata-mata ladang kita mencari uang, tapi juga cari nyaman. Percayalah, kalau tujuanmu hanya untuk mencari uang tanpa memerhatikan kenyamananmu pada pekerjaan tersebut, kamu hanya akan dapat uang, tapi hari-harimu dipenuhi dengan keluhan. Tidak akan berkah. Jadi menurut saya semuanya harus seimbang. Kamu mencari uang dan kamu harus menikmati pekerjaannya.
Saya mengerti keadaan orang berbeda-beda, mungkin beberapa orang terpaksa memilih pekerjaan yang sesungguhnya mereka tidak suka karena kebutuhan, entah itu kebutuhan ekonomi atau desakan dari orang-orang di sekitarnya.
Intinya di sini, saya ingin mengatakan bahwa kebahagianmu itu penting, soal rezeki sudah diatur Tuhan, bagaimanapun tak akan dihentikan aliran rezekimu oleh Tuhan. Kuncinya usaha. Pekerjaan apapun jika ditekuni akan menghasilkan sesuatu yang baik. Ikhtiar apapun yang kamu lakukan pasti akan dibayar oleh Tuhan (asal halal ya!). Jika sekarang tidak memungkinkan untuk kamu keluar dari posisi yang tidak kamu sukai, mungkin kamu bisa mulai merenungkan apa yang sebenarnya kamu ingin lakukan dalam hidup ini. Setidaknya kamu sudah mulai berpikir untuk berubah ke kehidupan yang lebih baik.
Jangan sia-siakan masa mudamu untuk hal yang tidak kamu suka. Jangan sampai suatu saat nanti kamu berkata "Harusnya aku begini dari dulu, harusnya aku melakukan ini dari dulu" dan lain sebagainya. Sesuatu yang mengartikan sebuah penyesalan. Apapun yang kamu lakukan hari ini, akan sangat berguna untuk hidupmu kelak. Buatlah dirimu di masa depan bangga karena kamu telah melakukan perubahan hari ini. Jangan ikuti arus, kamu harus melawannya. Materi dan kebahagiaan harus seimbang. Bukan materi yang menjadi tolak ukur kebahagiaan.
Untuk kamu yang membaca tulisan ini, semoga hari-harimu dilingkupi oleh kebahagiaan. Bersyukurlah kalau kamu sudah bekerja sesuai passion dan sudah mendapat hasil yang memuaskan. Untuk yang belum atau untuk yang masih beriktiar (seperti saya), tetaplah pada jalan yang kamu yakini. Saya merasakan sendiri perbedaan ketika menjalani pekerjaan yang saya kurang sukai (dengan salary yang lumayan) dan ketika menjalani pekerjaan yang saya sukai (walaupun serabutan dan salary tak menentu), itu bahagianya beda jauh.
Semangat kalian, semoga rezeki lahir & bathin selalu dilimpahkan kepada kita semua😊
Okay, saya yakin semua hal yang di dunia ini berlandaskan dari ilmu. Tuhan telah menyeting sedemikian rupa agar manusia dapat berpikir dengan baik dan bijak atas segala aspek kehidupan yang dijalaninya, dan apapun yang kita lakukan ya harus ada ilmunya. Ilmunya dari mana? ya dari Tuhan-lah. Tepat! I mean, kita bisa cari ilmu dari mana aja sih? Ilmu bisa datang dari mana aja. Beberapa orang bilang "saya tidak perlu kuliah, karena ilmu bisa datang dari mana aja. Saya bisa mencari ilmu dari mana aja, walaupun bukan di bangku kuliah." Benar, ilmu bukan hanya ada di bangku kuliah dan beberapa pekerjaan tidak butuh tau kamu kuliah dimana, pendidikanmu setinggi apa, yang jelas kamu harus punya skill dalam bidang tersebut. Tapi sebegitu tidak pentingkah kuliah ketika kamu merasa lebih siap menghadapi dunia daripada orang-orang yang kuliah?
Menurut saya, perkuliahan memang bukan satu-satunya tempat untuk kamu mencari ilmu, karena sebenarnya ilmu yang kamu dapat di bangku kuliah belum tentu sesuai dengan apa yang kamu kerjakan di kemudian hari. Tapi bukan berarti tidak penting. Saya percaya jika derajat seseorang salah satunya dilihat dari pendidikannya. Bukan soal apa gelarmu, dimana kuliahmu, seberapa pintar dirimu. Tapi menurut saya, perkuliahan adalah bagian dari ikhtiar untuk meng-upgrade ilmu. Saya lebih melihat kearah bagaimana usaha kita untuk mencoba menjadi makhluk yang lebih baik, ya salah satunya dengan pendidikan itu sendiri. Lagi-lagi bukan karena peduli dengan pandangan dunia tentang kamu.
"Lalu apa gunanya kuliah kalau kerjamu tidak sesuai dengan kuliahmu? Sayang dong kuliah kamu."
Pertanyaan dan pernyataan tersebut adalah makanan saya sehari-hari. Sayang? Engga. Apa yang harus disayangkan dari menuntut ilmu? Tidak akan ada yang sia-sia selama itu positif. Kalau sekarang konteksnya ilmu kuliahmu bukan modal untukmu dalam mencari uang, apakah itu patut untuk disayangkan? Saya yakin ilmu yang pernah saya dapat akan sangat berguna di aspek lain selain pekerjaan. Saya sangat tidak paham mengapa pekerjaan masih harus berorientasi pada pendidikan.
Pekerjaan bukan semata-mata ladang kita mencari uang, tapi juga cari nyaman. Percayalah, kalau tujuanmu hanya untuk mencari uang tanpa memerhatikan kenyamananmu pada pekerjaan tersebut, kamu hanya akan dapat uang, tapi hari-harimu dipenuhi dengan keluhan. Tidak akan berkah. Jadi menurut saya semuanya harus seimbang. Kamu mencari uang dan kamu harus menikmati pekerjaannya.
Saya mengerti keadaan orang berbeda-beda, mungkin beberapa orang terpaksa memilih pekerjaan yang sesungguhnya mereka tidak suka karena kebutuhan, entah itu kebutuhan ekonomi atau desakan dari orang-orang di sekitarnya.
Intinya di sini, saya ingin mengatakan bahwa kebahagianmu itu penting, soal rezeki sudah diatur Tuhan, bagaimanapun tak akan dihentikan aliran rezekimu oleh Tuhan. Kuncinya usaha. Pekerjaan apapun jika ditekuni akan menghasilkan sesuatu yang baik. Ikhtiar apapun yang kamu lakukan pasti akan dibayar oleh Tuhan (asal halal ya!). Jika sekarang tidak memungkinkan untuk kamu keluar dari posisi yang tidak kamu sukai, mungkin kamu bisa mulai merenungkan apa yang sebenarnya kamu ingin lakukan dalam hidup ini. Setidaknya kamu sudah mulai berpikir untuk berubah ke kehidupan yang lebih baik.
Jangan sia-siakan masa mudamu untuk hal yang tidak kamu suka. Jangan sampai suatu saat nanti kamu berkata "Harusnya aku begini dari dulu, harusnya aku melakukan ini dari dulu" dan lain sebagainya. Sesuatu yang mengartikan sebuah penyesalan. Apapun yang kamu lakukan hari ini, akan sangat berguna untuk hidupmu kelak. Buatlah dirimu di masa depan bangga karena kamu telah melakukan perubahan hari ini. Jangan ikuti arus, kamu harus melawannya. Materi dan kebahagiaan harus seimbang. Bukan materi yang menjadi tolak ukur kebahagiaan.
Untuk kamu yang membaca tulisan ini, semoga hari-harimu dilingkupi oleh kebahagiaan. Bersyukurlah kalau kamu sudah bekerja sesuai passion dan sudah mendapat hasil yang memuaskan. Untuk yang belum atau untuk yang masih beriktiar (seperti saya), tetaplah pada jalan yang kamu yakini. Saya merasakan sendiri perbedaan ketika menjalani pekerjaan yang saya kurang sukai (dengan salary yang lumayan) dan ketika menjalani pekerjaan yang saya sukai (walaupun serabutan dan salary tak menentu), itu bahagianya beda jauh.
Semangat kalian, semoga rezeki lahir & bathin selalu dilimpahkan kepada kita semua😊


Comments
Post a Comment