Lelaki Tua di Kedai Kopi part1
Sore itu cuaca cerah,
langit telah merajuk kemerahan. Empunya sepasang sepatu kulit berjalan sedikit
tergopoh memasuki kedai kopi yang ada di pertigaan jalan utama kota. Kedai kopi
ini terasa tenang dan sepi, biasanya para pengunjung datang pada malam hari,
melepaskan penat dengan bersantai disana sepulang kerja. Sore ini, hanya ada
beberapa orang tengah memesan kopi dan sedikit lainnya tengah mengerjakan
sesuatu sambil menyeruput kopi hangat di kursi-kursi mereka.
Lelaki bersepatu
kulit ini menuju pelayan kedai dan memesan teh susu hangat. Ia tidak pernah
memesan kopi seperti apa yang orang-orang tuju di kedai kopi ini, ya kini ia
tak lagi suka kopi. Setelah mendapat pesanannya, ia berjalan menuju kursi
paling ujung sebelah kiri kedai ini. Dekat kursinya terdapat jendela yang
mengarah keluar kedai, dari sana ia bisa memandang objek terindah di kota
bersama hiruk pikuknya pada sore hari. Indah memang, namun ia tetap memurung.
“Hai Sam, seperti
biasa aku ingin kopi dengan krim moka ya, jangan terlalu manis” ujar seorang
gadis dengan gaun pendek merah muda kepada seorang pelayan kedai tersebut.
“Hallo Maya, tumben
kau sudah pulang? Ini kan hari Senin. Biasanya kau lembur menghadapi Bosmu yang
galak itu” jawab pelayan sambil tertawa kecil.
“Sialan kau, Sam.
Selalu saja meledek aku.”
“Habisnya kau masih
betah saja bekerja dengannya. Kau duduk saja dulu, nanti aku antar pesananmu.”
“Oh, iya. Nanti dulu
Sam, ada yang membuatku penasaran disini. Kau tau lelaki yang duduk di pojok
sana?
“Ya, ada apa
dengannya?”
“Aku sering sekali
melihatnya datang kesini. Namun setiap aku melihatnya, wajahnya selalu seperti
itu, tak pernah menampakkan kebahagiaan, dan ia selalu duduk dikursi itu. Apa
kau menyadarinya?”
“Kata Bosku, ia
memang pengunjung setia kedai ini sejak ia masih remaja dan tempat ini seolah
perekam bisu kisah hidupnya.”
“Aku tak mengerti
maksudmu, Sam”
“Dulu, lelaki tua itu
tak seperti ini, ia merupakan orang yang sukses, hidupnya sempurna dan bahagia,
bahkan pelayan disini mengenalnya sebagai seorang yang sangat ceria, tak
sedikit pekerja di sini yang mengenalnya dengan baik. Tak jarang ia
menghabiskan waktu senggang bersama kekasihnya di kedai ini. Kekasihnya cantik
dan sangat anggun, ia juga bersikap baik kepada semua orang yang lelaki itu
kenal, beruntung ia mendapatkan wanita seperti itu. Pada suatu malam, ia
menyuruh ayahku yang dulu seorang pelayan disini untuk mengosongkan kedai ini.
Ia berniat memesan kedai ini untuk melamar kekasihnya. Lalu pada akhirnya ia
berhasil menikahi gadis itu dan hidup bahagia bersamanya. Namun ia masih senang
mengunjungi kedai ini dengan keluarga kecilnya. Sampai pada suatu hari sesuatu
datang merenggut kebahagiaannya. Sudahlah Maya, kau minum dulu saja kopimu ini.”
"Ah tidak, bagaimana kelanjutannya? aku sungguh penasaran."
"Hai anak muda. Kau tak perlu tau apa-apa." Maya terperangah kaget, tiba-tiba lelaki tua itu sudah berada di sampingnya.
"Hai anak muda. Kau tak perlu tau apa-apa." Maya terperangah kaget, tiba-tiba lelaki tua itu sudah berada di sampingnya.


Comments
Post a Comment