Depan Pintu

Kemarin, suara kaki berderap pelan menuju pintu.
Mengetuk didepan rumahku.
Aku kira peri-peri mangantarkannya.
Mendayang dibelakangnya.
Baiklah disini tak ada peri.
Peri tak sudi mendampingi rasa-rasa yang tak ada.
Hanya desah dingin bersapa.
Dua orang saling bertatap pada muka-muka tanpa makna.
Bahkan uluman senja seakan meringkik perih.
Dan aku, aku mengaduh rusuh di tepian sepi.
Kau...
Lelaki putih. Seputih tulang belulang.
Dengan banyak gonggongan.
Lalu enyah hilang dari persimpangan.
Aku tertawa sarkas. Kau tak berbekas.
Gontai menyeret nada-nada sumbang beradu.
Aku menyukaimu dengan segala ketidaktahuanku.

Pernah waktu melalang tak mau pergi.
Merangkul senyum lalu berujung rindu.
Kepada kau, aku tak bisa mengadu.
Berikan aku setitik kata lalu akan kuberi kau sejuta cerita.
Aku bermimpi.

Seperti larik-larik bisu memerihkan mata.
Meradang kelu mengerubungi sampai renta.
Dengan sapa yang tak sempat dan tangis yang tak lepas.
Aku masih membatu depan pintu.




Comments

Popular Posts