Perempuan dengan Gincu


Bumi sedang tak menghadap matahari
Bulan juga sedang tak ingin dinikmati
Perempuan setengah berlari menembus angin yang mau dicumbu
Mau kemana? Tanyaku.
Menjemput masa lalu.
Jawabnya tanpa menoleh satu derajat pun.
Matanya...
Aku melihat matanya.
Layaknya bongkahan bata di proyek pembangunan
Layaknya sisa-sisa kue pie yang tak habis dimakan semut
Layaknya serpihan kaca yang berserakan di jalan setelah kecelakaan
Tak ada yang menyambut. Tak ada yang menjemput.
Seperti itu matanya.
Tapi sungguh aku tak penasaran bagaimana ceritanya. Lara, perih atau suka?

Aku hanya ingin menyergap dingin pukul sembilan

Menangkap kerlipan lampu kota yang gemerlapan
Sedang pilu. Aku sedang pilu.

Perempuan itu.

Perempuan dengan gincu.
Ternyata tak jauh berhenti di depanku.
Menatap sebuah pintu.
Pikiranku buncah. Tiba-tiba pandanganku tersita.

Perempuan dengan gincu itu jatuh terduduk.

Lagi lagi aku melihat yang tak ingin ku lihat.
Sebuah awan gelap kecil tepat diatas kepalanya menebar hujan.
Tubuhnya penuh sayatan segar.
Darah...
Darah.
Ada banyak darah memandikan jiwanya.
Balutan gaun putihnya semakin tak tampak.
Tersapu kesakitan penuh di tengah kegelapan malam

Namun, percayalah.

Itu hanya imajinasiku.

Perempuan dengan gincu

Dia sedang mengumpulkan pecahan hatinya yang berserakan.
Mengumpulkan nyawa yang selama ini enggan singgah
Mengumpulkan air mata yg bercecer sepanjang jalan
Pukul sebelas lebih delapan menit
Dia berbalik dan berjalan gontai.
Jauh memunggungiku
Dan menghilang.

Comments

Popular Posts