Tak Seindah Jingga


Langit senja kala itu, begitu indah diwarnai oleh samar semburat jingga. Dia yang kala itu sedang duduk diatas rerumputan, menatap langit dengan penuh amarah. Entah berapa kali dia mengutuk dirinya sendiri. Jingga yang membenci jingga. Mungkin orang tuanya menginginkan anak gadisnya mendapat kehidupan seperti warna jingga yang menghiasi warna pelangi dikala hujan telah mereda. Indah dan cerah. Namun, yang kali ini sang jingga tertutup oleh kabut hitam yang menghalangi cerahnya.
****
Gadis itu jingga namanya, usianya sudah ketujuh belas tahun ini. Maka pantas jika ia telah merasakan getar-getar cinta dalam dirinya. Seharusnya cinta bisa membuat dirinya bahagia. Namun cinta yang ia dapat hanyalah cinta semu. Berulang kali ia mencoba beranjak dalam jerat- jerat yang mengharuskannya untuk tetap tinggal. Terjebak dalam satu lingkaran yang membuatnya terus kembali ketitik semula. Begitu berat cinta tanpa balasan sejati yang harus ia jalani. Bahkan keledai yang bodoh takkan kembali kelubang yang sama. Aku tahu betul bagaimana rasanya. Rasa sakit datang silih berganti menghujamkan berbagai kepedihan.
"mencintaimu adalah suatu keindahan yang tak pernah terwujud, selalu kunanti dirimu.."
Adalah sepenggal lagu yang mampu melukiskan perasaan hatinya saat itu. Jingga yang menyesali kisah cintanya tak seindah namanya, berharap esok jingga tetaplah jingga. Bukan hitam atau kelabu.
***
Mencintai adalah kodrat manusia yang tak bisa di pungkiri atau dihindari. Sama seperti jingga yang mencintai pemuda itu, Rafie namanya. Sudah beberapa tahun ia memendam perasaan itu sejak pertama kali ia bertemu. Tidak ada yang spesial dari pemuda itu namun jingga sangat mencintainya. Selalu berharap cintanya tak bertepuk sebelah tangan, walau dia tahu perasaan tak mungkin dipaksakan. Tak banyak yang bisa ia lakukan saat ini. Hanya menulis semua perasaan dalam kata-kata indah tanpa pemuda itu tahu. Aku yakin cintanya pada pemuda itu sangatlah tulus.
Dia selalu tersenyum mengingat saat pertama bertemu pemuda itu.
"Seolah matahari hanya berputar mengelilingi aku dan dia bahkan suara-suara melenyap sepi" ujarnya.
Pikirannya mulai kacau, terpenuhi oleh racun-racun yang membius otaknya untuk terus memikirkan pemuda itu. Detik itu juga, ia mulai mencari identitas dan mengagumi pria itu. Terkesan terlalu berlebihan namun itulah cinta yang bisa membuat orang jadi gila. Hari demi hari telah berganti meninggalkan sejuta kisah tentang cinta tanpa balas, dia terus menikmatinya walau tahu bila kenyataan yang ia bayangkan akan sakit bila tidak berakhir indah. Perasaannya semakin kuat. Hingga akhirnya ia mulai mengetahuinya..
***
Rafie pemuda urakan namun sopan, awalnya hanyalah pemuda biasa yang berubah jati dirinya akibat lingkungan yang menuntutnya untuk berubah. Pemuda itu saat pertama kali bertemu dengannya tidak seperti ini.Terkesan pendiam tak banyak biacara. Saat ini terkesan lebih brutal. Namun cinta tetaplah cinta, seperti apapun perubahan yang terjadi pada rafie, jingga tetap mencintainya.
Perubahan ini terlalu cepat untuk dia terima. Rafie yang ia kenal dahulu bukanlah yang ia kenal sekarang. Jingga menyayangkan hal itu, andai dia bisa merubah waktu dia ingin kembali ke masa itu dan tidak datang dimasa sekarang.
***
Selalu mencari perhatian, menatapnya dengan tajam, berharap waktu tidak cepat berlalu saat bertemu dengan Rafie.
"Hei, lihatlah aku ! Aku disampingmu".
Inginnya jingga mengucapkan itu, namun setiap ia mencoba membuka mulutnya suaranya seakan menghilang. Rafie selalu membuatnya salah tingkah, gerak-geriknya tak mampu menyembunyikan perasaannya. Hingga akhirnya Rafie tahu perasaan jingga padanya
***
Aku masih ingat beberapa waktu yang lalu, saat itu hujan deras langit berbalut kabut, jingga mengetuk pintu rumahku. Wajahnya pucat pasi, bibirnya gemetar. Dengan tangis yang belum mereda dan suara terbata, iamencoba kuat untuk menceritakannya.
"Entah berapalama lagi aku harus bertahan, aku takut dan lemah kan perasaanku. Aku ketahuan olehnya, dia menjauhiku dengan kemarahannya". ujarnya ingin menitihkan air mata lagi.
"Sudah jangan menangis, melihatmu menangis membuatku merasa sedih". jawabku sambil mengambilkannya tissu.
Tak banyak yang bisa aku lakukan, hanya menghibur dan memeluknya. Jingga yang lelah dengan perasaannya mencoba melupakan segala perasaan dan mengunci rapat hatinya. Baginya Rafie hanyalah mimpi yang terbenam sepi, ini adalh kali pertama ia merasakan cinta yang begitu pedih diawal kedewasaannya. Banyak lelaki yang singgah dihatinya, hanya mampir sebentar. Namun hanya rafie dan selalu Rafie yang menetap. Diapun menyadari hatinya untuk rafie.
***
September bulan itu, kecemasannya meningkat. Itu adalah bulan dimana Rafie merayakan hari jadinya. Satu persatu temannya diundang pada perayaan itu. Jingga menyerah, pikirnyapun dangkal. Kejadian beberapawaktu lalu, membuatnya tak banyak berharapuntuk bisa datang ke acara itu. Tidak disangka dan diduga, dia diundang. Hatinya becampur senang dan cemas dengan apayang akan terjadi nantinya. Kado spesial untuk
pemuda yang spesial dia persembahkan untuknya. Beberapa jam sebelum dia berangkat, rasa hatinya tidak menentu
dihatinya mulai bermunculan firasat-firasat, namundia tetap meneruskan langkahnya.
Sesampainya dirumah Rafie, suasananya sudah ramai dipenuhi oleh suara-suara tawa, jingga disana merasa asing sendiri. Ada satu yang mengahantui pikirannya, saat itu Rafie ditemani oleh wanita dan Rafie merasa nyaman.
"Sudahlah ! biarkan saja, aku siapa? " gumamnya dalam hati.
Pesta pun usai, hari dijemput malam dan aku harus segera pulang.
"Oh rafie..mengapa waktu sesingkat ini ?" gumamnya lagi sambil berjalan pulang.
Setelah ulang tahun itu, hubungannya membaik. Dia mulai berkomunikasi setelah lama saling berdiam tak saling menyapa. Akhirnya hari itu datang juga, walau sedikit terkesan canggung, namun jingga merasa senang. Jingga mulai berharap kabut hitam itu pergi dan hilang.
Namun ternyata pikirannya salah. Pemuda yang bisa membuat dirinya terbang tinggi, menjatuhkannya. Mendekatinya
lalu mencampakkannya.
***
Oktober Jingga kembali menghitam, padahal seharusnya bulan itu dia berselimut kebahagiaan. Ulang tahunnya sebentar lagi, seharusnya pemuda itu memberikan kado spesil dihari ulang tahunnya. Bukan kabar yang membuatnya terkejut seperti ini. Wanita yang dilihatnya sebulan lalu di pesta ulangtahun itu adalah kekasih Rafie. Itu adalah kado terburuk yang tak pernah ia harapkan seumur hidupnya. Kecewa dan kesal rasanya.
***
Wanita itu, Patricia namanya. Dia yang telah merebut hati Rafie. Wanita itu sangat baik dan Jingga mengakuinya. Impiannya untuk bisa menjadi pilihan hati Rafie musnah.
"Apakah aku bisa merelakannya?". Bertanya Jingga padaku.
"Kamu pasti bisa, ga". Jawabku.
Memang ini seperti menabur garam dalam luka, namun apa boleh buat ini takdirnya. Menangispun tidak bisa merubah takdir.
"Mengapa tak hitam saja namaku? Bila cinta tak seindah jingga". Ujarnya
"Kau jingga, akan tetap menjadi jingga bagiku, orang tuamu dan temanmu lainnya. Tetaplah tersenyum agar jingga tak memudar warnanya"  Jawabku.
Jingga menangis seraya memelukku erat. Jingga sadar, walau Rafie tidak mencintainya masih banyak disekelilingnya orang-orang yang mencintainya. Walau cintanya tidak mendapat balasan dari Rafie, dia tidak menyesal telah bertemu dan mengenal pemuda itu, karena Rafie ia tahu rasanya bahagia dan sakit mencintai seseorang. Sampai saat ini masih tersimpan memori indah tentang Rafie dihatinya dan tak mungkin dapat terlupa sepanjang hidupnya. Satu yang ia yakini saat ini, dirinya lebih mengenal Rafie dari pada perempuan itu.

Comments

Popular Posts