Ini aku. Tak berubah
Aku terlanjur
menyukaimu. Dari putih sampai hitam. Dari terang sampai kelam. Dari fajar
sampai bulan. Dan dari aksara sampai prosa.
Senja tak
harus berbinar menyilau hanya untuk membuatku kagum. Begitupun kamu. Tak cukup
kata untuk kamu mengetahui segala.
Kita rindu
lalu berjumpa adalah hal paling manis semanis secangkir kopi susu yang kamu
santap. Walau perlahan memudar pahit.
Layaknya.. Ketika
senja tak bersahabat denganku lagi. Ketika hujan tidak lagi menjadi pertanda.
Ketika aku berimajinasi sendiri saat malam. Ketika tak ada lagi nyanyian
sebelum tidur. Ketika aku berceloteh sendiri. Tertawa dan menangis sendiri pada
hidup. Itu pula saat kamu tak ada lagi..
Kalau kamu
mengenalku, kamu pasti akan menarikku dari zona menyedihkan ini segera
Tapi kamu
tetap diam disana. Tenang. Dingin.
Seperti tanpa beban. Seperti tak
kehilangan. Seperti tak mencintaiku.
Air wajahmu
saat itu.. aku tak mengerti apa yang tersirat disana. Abu-abu. Samar. Dan aku
terus menebak-nebak.
Aku juga tak
paham apa arti bunga itu. Arti isakanmu. Arti genggaman tanganmu dan arti
usapan jemarimu pada air mataku.
Apa ini
hanya mimpi indah dan sekarang aku terbangun dengan segala harapan yang sebenarnya
tak pernah terjadi?
Masih sering
memutar otak lalu geleng-geleng kepala. Masih tak mengerti.
Terlampau banyak
kenangan yang masih meradar tepat dikeningku. Menuntut untuk diingat. Memaksa
untuk kembali menyengat. Berlarian memecah titik tenangku.
Dan saat
ini, aku mulai membuncah. Mencoba membuang semua rasa yang membuat pening. Semua
kata yang seraya menghening. dan semua
kisah yang bikin merinding. Sedih.
Ini aku. Tak berubah. Masih dengan mimpi. Tentang kamu..
Comments
Post a Comment