bukan rumahku


Perlahan asa itu akan pulang pada titik lemahnya dan mati
Dibelokan sana, diujung jalan sana, ada pohon besar
Rumput melapang dan anak anak yang berlarian
Waktu sinar mentari memerah bersemburat jingga samar
Sehabis hujan sedikit hawa hawa basah
Menyadarkanku dengan setengah desah
Rumahku bukan disana lagi...

Bukan disana. Bukan di si empunya punggung itu
Punggung yang menghilang ditelan bayangan pohon besar itu.
Diacuhkannya aku bersama kicau kenari dan awan yang memalam
Terasa ngilu mendarah daging ketika senja sepenuhnya terbenam
Dengan setumpuk rasa tak wajar, aku menyamarkan tatap
Lalu pergi melewati ilalang pelan, sambil membiarkan benakku coba mencerna
Sedikit makna, kamu berhasil mengganti semesta dengan duka...


Comments

Popular Posts