Aku, kamu dan jarak
Aku masih mematung
disini. Masih melamuni kata pada sore yang mengiringi kamu pergi.
Masih
menatap nanar kejauhan yang tak bisa menjangkau tersenyumnya kamu.
Masih dengan
pikiran yang teraduk melepasmu pergi mengayuh mimpi.
Masih mengira-ngira
bagaimana jika kita bertemu lagi nanti. Apa kamu dan mimpimu bisa menyatu
denganku sebagaimana janjimu?
Kita
terbiasa bersama. Menikmati merdu sendu rasa rasa yang labil selama bertahun.
Ya, aku dan
kamu.
Kini, aku
hanya mencandu sepi. Menghirup sunyi. Merengkuh jarak yang membawamu bergegas
dari mataku.
Aku
berpeluk dengan hati mendayu maksimal. Selalu gagal menceriakan diri.
Hatiku
seolah terbang ke sudut bumi lainnya. Terpisah monster kilometer yang menguras
kerinduan.
Terjerat waktu
yang seolah menertawakan. Memusat pada pilu setiap terpejam.
Aku sedang
terjaga dan kamu tak disini. Tak di depanku. Tak menggenggam tanganku.
Rinduku membuncah
tak teradu. Mungkin juga rindumu..
Apa yang
kamu lakukan saat rindu?
Apa kamu
mengingatku seiring detik jarum arlojimu? Sesering itukah?
Aku takut.
Hanya takut. Dan akan selalu takut.
Kapan kamu
kembali?
Akankah
lembayung Bali dengan senja eloknya menarik ingatanmu padaku?
Bayanganmu
tak bisa hilang barang sejenak. Langkahmu selalu terasa disini. Di yang
terdalam.
Sepenuh doaku
menyebut namamu. Senandung mengadu pada mentari saat fajar dan mengoceh pada bulan
waktu malam. Berharap pesanku selalu menempel dikeningmu.
Pesanku,
kalau aku menunggumu disini. Jadi cepatlah kembali...


Comments
Post a Comment